Kembali ke beranda
Pikiran

Saya Bukan Orang IT. Tapi Saya Bikin Aplikasi Sendiri.

Dari browser dengan 47 tab terbuka, seorang non-IT membangun aplikasi personal dengan AI. Ini perjalanan jujur dari bug hingga sistem kerja ideal.

ZM

Ziaul Maula

Dosen FEB UNSAM · Digital Marketer

3 min read
01-BASB-Title-Card
01-BASB-Title-Card

Kepala saya itu seperti browser dengan 47 tab terbuka.

Ada ide artikel. Ada agenda kelas. Ada catatan klien. Ada rencana konten. Ada hal random yang tiba-tiba muncul jam 1 malam dan terasa penting banget, padahal besoknya sudah lupa.

Saya dosen, digital marketer, konsultan, penulis. Dan manusia yang terlalu sering bilang "nanti saya catat" tapi tidak pernah benar-benar mencatat. Bukan karena malas. Tapi karena catatannya nyebar di lima tempat berbeda yang tidak saling kenal satu sama lain.

Lalu AI datang. Dan entah bagaimana, ide yang selama ini cuma muter di kepala akhirnya punya jalan keluar: bikin personal dashboard sendiri.

Waktu Baru Jadi Rasanya Keren Banget,

Di kepala saya, bayangan dashboardnya sudah megah. Ada AI assistant yang ngerti konteks kerja saya. Ada kalender pintar. Ada blog. Ada ruang notes. Semuanya rapi. Semuanya sinkron. Persis seperti adegan film ketika tokoh utama buka layar hologram dan hidupnya langsung tertata.

Kenyataannya?

Yang pertama muncul bukan rasa bangga. Yang pertama muncul adalah bug.

AI bot-nya ditanya "Besok ada agenda apa?" dia jawab seperti orang yang baru pertama kali ketemu saya. Disuruh edit jadwal jam 11 siang, yang muncul jam 04.00. Saya punya asisten yang semangat dan sopan, tapi kayaknya habis minum bensin.

Editor blog-nya ikut berulah. Nulis artikel, semuanya kelihatan normal. Tapi setelah disimpan dan dibuka lagi, jarak antar paragraf berubah seolah habis baca panduan social distancing. Saya cuma mau nulis, kok malah jadi debat sama editor.

Fitur PWA-nya bilang aplikasi sudah bisa diinstall. Saya install. Pas dibuka, masih kayak browser biasa. Seperti beli motor, tapi pas dipakai ternyata masih harus digowes.

Ternyata Tidak Sesimple Itu,

Di sinilah saya sadar satu hal yang tidak akan pernah diajarkan di tutorial YouTube manapun.

Kalau aplikasinya kamu pakai sendiri, kamu tidak bisa pura-pura puas.

Saya yang kesal kalau AI-nya salah baca agenda. Saya yang langsung tahu kalau font blog terlalu besar di HP. Saya yang merasa ilfeel kalau padding-nya terlalu lebar. Saya yang ngerasain tombol yang secara teknis ada tapi secara pengalaman rasanya aneh banget.

Tidak ada klien yang bisa ditipu. Tidak ada demo yang bisa diedit. Cuma ada saya, aplikasi saya, dan jujurnya pemakaian sehari-hari.

Dan dari sanalah produk ini mulai tumbuh beneran. Bukan dari fitur yang terus ditambah, tapi dari rasa tidak nyaman yang kecil-kecil. Yang kalau diperbaiki satu per satu, hasilnya jauh lebih natural dan lebih cocok dengan cara saya sendiri bekerja.

Pelajaran Paling Jujur dari Proyek Ini

Awalnya mikir ah nanti-nanti dulu baru pakai. Ternyata salah. Justru dengan pakai duluan, saya tahu apa yang sebenarnya saya butuh.

PRD bisa terlihat sempurna. Mockup bisa terlihat keren. Tapi tidak ada yang lebih jujur daripada pas pakai sendiri, ngerasain sendiri, dan memperbaikinya sendiri.

Saya bukan lulusan IT. Tidak pernah ikut bootcamp. Tapi dengan bantuan AI, saya bisa berdialog dengan ide saya sendiri. Pelan-pelan, ide itu jadi sesuatu yang bisa diklik, dipakai, dimaki, lalu diperbaiki lagi.

Belum sempurna? Jelas.

Tapi sekarang saya tidak lagi cuma membayangkan sistem kerja ideal sambil rebahan.

Saya sedang membangunnya. Dan setiap hari, aplikasi itu mengajari saya satu hal yang sama:

Bug bukan cuma gangguan. Bug adalah guru terbaik!

Postingan ini diupload menggunakan aplikasi Second Brain.

#pikiran

Bagikan artikel ini

Pilih kanal yang paling nyaman buat pembaca.

Suggested posts

Lanjut baca